Download Abses Paru.pdf PDF

TitleAbses Paru.pdf
File Size1.6 MB
Total Pages28
Table of Contents
                            Kondisi
	Staphylococcus aureus
		All those listed for primary abscess
		Peptostreptococcus constellatus, intermedius, saccharolyticus
		Veillonella sp., alkalenscenens
		Bacteroides melaninogenicus, oralis, fragilis, corrodens, distasonis, vulgatus, ruminicola, asaccharolyticus
		Fusobacterium necrophorum, nucleatum
		Bifidobacterium sp.
			Infectious
Seorang pasien 54 tahun dengan batuk berdahak yang berbau busuk. Tampak abses paru pada lobus kiri bawah di segmen superior.
2TSeorang pria, 42 tahun dengan demam dan batuk berdahak yang berbau busuk. Os memiliki riwayat penggunaan alcohol berat, infeksi gigi didapati pada pemeriksaan fisik. Foto toraks menunjukkan adanya abses paru di segmen posterior obus kanan atas.
2TGambaran radiografi dari seorang pasien dengan batuk berdahak yang berbau busuk. Tampak gambaran diagnosis abses paru yang anaerobic.
Pemeriksaan barium menunjukkan sliding hiatal hernia. Lambung berlipat dan terlihat meluas di atas diafragma
II.11 Komplikasi
II.12. Prognosis
                        
Document Text Contents
Page 1

GAMBARAN RADIOLOGIS PADA ABSES
PARU






























HENNY MAISARA SIPAHUTAR
NIP.19810522 200812 2 002





DEPARTEMEN RADIOLOGI
FK.USU / RSUP H. ADAM MALIK

M E D A N
2011

Universitas Sumatera Utara

Page 2

BAB I

PENDAHULUAN



Abses paru adalah lesi paru berupa supurasi dan nekrosis jaringan.(1) Pada

daerah abses, terdapat suatu daerah lokal nekrosis supurativa di dalam parenkim

paru, yang menyebabkan terbentuknya satu atau lebih kavitas yang besar.

Kemajuan ilmu kedokteran saat ini menyebabkan kejadian abses paru menurun

karena adanya perbaikan risiko terjadinya abses paru seperti teknik operasi dan

anastesi yang lebih baik dan penggunaan antibiotik lebih dini, kecuali pada

kondisi-kondisi yang memudahkan untuk terjadinya aspirasi dan pada populasi

dengan daya tahan tubuh yang menurun (immunocompromised).

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan atau mendorong terjadinya

abses paru. Beberapa penelitian menyimpulkan beberapa faktor terkait pendorong

terjadinya abses paru, diantaranya para pecandu alkohol, penderita karies gigi,

aspirasi saluran pernafasan sampai kelainan saluran pernafasan.

(2)

(2),(4),(5) Kuman

atau bakteri penyebab terjadinya abses paru bervariasi. 46% abses paru

disebabkan hanya oleh bakteri anaerob, sedangkan 43% campuran bakteri anaerob

dan aerob.(2) Kemudian pada anak-anak ditemukan faktor predisposisi dari abses

paru dapat disebabkan oleh infeksi berat hingga imunodefisiensi.

Untuk melihat lokasi dan bentuk lesi maka dilakukan pemeriksaan

radiologik sebagai pemeriksaan penunjang abses paru. Pemeriksaan radiologik

yang akan digunakan antara lain Foto polos, Tomografi Komputer (TK),

Ultrasonografi (USG) dan Magnetik Resonance Imaging (MRI).

(5)

(3) Pada

pemeriksaan foto polos sangat membantu untuk melihat lokasi lesi dan bentuk

abses paru.(11) Sedangkan pada TK dapat menunjukkan lesi yang tidak terlihat

pada pemeriksaan foto polos dan dapat membantu menentukan lokasi dinding

dalam dan luar kavitas abses.(12) Pemeriksaan radiologik lain seperti ultrasonografi

(USG)(13) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI)(14)

Abses paru merupakan kasus jarang dan beberapa dokter meningkatkan

pengetahuannya dalam penatalaksanaannya.

juga dapat menentukan

diagnosis meskipun jarang digunakan.

(16) Antibiotik tunggal tidak

Universitas Sumatera Utara

Page 14

Seorang pria, 42 tahun dengan demam dan batuk berdahak yang berbau
busuk. Os memiliki riwayat penggunaan alcohol berat, infeksi gigi didapati
pada pemeriksaan fisik. Foto toraks menunjukkan adanya abses paru di
segmen posterior obus kanan atas.





Gambaran radiografi dari seorang pasien dengan batuk berdahak yang
berbau busuk. Tampak gambaran diagnosis abses paru yang anaerobic.

II.8.2. Tomografi Komputer (TK)

TK merupakan scan evaluasi dengan kontras menjadi pilihan untuk tujuan

skreening dan sebagai alat bantu untuk prosedur aspirasi perkutan dan drainase

(percutaneous catheter drainage). TK dapat menunjukkan lesi yang tidak terlihat

pada pemeriksaan foto polos dan dapat membantu menentukan lokasi dinding

dalam dan luar kavitas abses.(11)

Pemeriksaan ini membantu membedakan abses paru dengan diagnosis

banding lainnya. Pada gambaran TK, kavitas terlihat bulat dengan dinding tebal,

Universitas Sumatera Utara

Page 15

tidak teratur dengan air-fluid level dan terletak di daerah jaringan paru yang rusak.

Tampak bronkus dan pembuluh darah paru berakhir secara mendadak pada

dinding abses, tidak tertekan atau berpindah letak. Abses paru juga dapat

membentuk sudut lancip dengan dinding dada.12




Gambaran CT scan contrast-enhanced axial menunjukkan lesi

kavitas yang besar di lobus bawah kiri dengan dinding yang relatif tebal
(black arrow). Kavitas memiliki batas dalam yang halus dan air-fluid level
(white arrow). Terdapat reaksi inflamasi pada sekitar paru-paru (yellow
arrow). Terlihat adanya sudut lancip dengan dinding posterior dada.


II.8.3. Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan USG jarang dianjurkan pada pasien dengan abses paru.

Namun, USG juga dapat mendeteksi abses paru. tampak lesi hipoechic bulat

dengan batas luar. Apabila terdapat kavitas, didapati adanya tambahan tanda

hiperechoic yang dihasilkan oleh gas-tissue interface. 2

Universitas Sumatera Utara

Page 27

Daftar Pustaka:

1. Alsagaff,H., dkk. 2006. Abses Paru dalam Dasar-dasar Ilmu Penyakit
Paru: Airlangga University Press, Surabaya. Halaman 136-140.

2. Rasyid, A., 2006. Abses Paru. Dalam : Sudoyo, dkk. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan Departemen IPD FK-UI, Jakarta.
Halaman 1052-1055.

3. Kamangar, dkk. 2009. Lung Abscess. Emedicine. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/299425-overview [Accessed on 19
Februari 2011]

4. Kharkar RA, Ayyar VB. 2011. Aetiological aspects of lung abscess. J
Postgrad Med [serial online] 1981 [cited 2011 Mar 6];27:163. Available
from: http://www.jpgmonline.com/text.asp?1981/27/3/163/5637 cited on 6
March 2011 in Journal of Postgraduated Medicine. Available from
http://www.jpgmonline.com/article.asp?issn=0022-
3859;year=1981;volume=27;issue=3;spage=163;epage=6;aulast=Kharkar#
cited. {Accessed on 5 Maret 2011)

5. Asher, MI, 1990. Lung Abscess in Infections of Respicatory Tract;
Canada. 429 – 434 dalam Asuhan Keperawatan Abses Paru. Available
from http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-paru.html
[Accessed on 20 Februari 2011]

6. Finegold, S.M.,dkk. 1998. Empyema and Lung Abscess ; in Fishman’s
pulmonary Diseases and disorders 3rd ed ; Philadelphia. Halaman : 2021
– 2032 dalam Asuhan Keperawatan Abses Paru. Available from
http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-paru.html
[Accessed on 20 Februari 2011]

7. Barlett, J.G., 1992. Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19th ed ;
Phildelphia. Halaman : 413 – 415 dalam Asuhan Keperawatan Abses Paru.
Available from http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-
paru.html [Accessed on 20 Februari 2011]

8. Ricaurte, K.K., dkk. 1999. Allergic broucho pulumonary aspergillosis with
multiple Streptococceus pneumonie. Lung Abscess : an unussual insitial
case presentation. Journal of Allergy and Clinical Imonoligy 104. 238 –
240.

9. Maitra,A., Kumar, V., 2007. Abses Paru. Dalam : Robbins, Buku Ajar
Patologi Edisi 7. EGC, Jakarta. Halaman 556.

10. Garry,dkk. 1993. Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal
Medicina : Diagnosis and Therapy 3rd ; Oklahoma. 119 – 120.

11. Juhl, John., dkk. Essentials of Radiologic Imaging. Mexico. Halaman 755-
757.

12. Rasad, S., 2005. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua: Fakultas Kedokteran
UI, Jakarta. Halaman 101-103.

13. Bouhemad B, Zhang M, Lu Q, Rouby JJ. 2007. Clinical review: Bedside
lung ultrasound in critical care practice. Crit Care. 11(1). Halaman 205

Universitas Sumatera Utara

http://emedicine.medscape.com/article/299425-overview�
http://www.jpgmonline.com/text.asp?1981/27/3/163/5637�
http://www.jpgmonline.com/article.asp?issn=0022-3859;year=1981;volume=27;issue=3;spage=163;epage=6;aulast=Kharkar#cited�
http://www.jpgmonline.com/article.asp?issn=0022-3859;year=1981;volume=27;issue=3;spage=163;epage=6;aulast=Kharkar#cited�
http://www.jpgmonline.com/article.asp?issn=0022-3859;year=1981;volume=27;issue=3;spage=163;epage=6;aulast=Kharkar#cited�
http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-paru.html�
http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-paru.html�
http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-paru.html�
http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-paru.html�

Page 28

14. Cohen, M.D., Eigen, H., 2005. Magnetic resonance imaging of
inflammatory lung disorders: preliminary studies in children. Pediatr
Pulmonol.Jul-Aug;2(4):211-7

15. Stark, D.D. Differentiating lung abscess and empyema: radiography and
computed tomography. American Journal of Roentgenology, Vol 141,
Issue 1. Halaman 163-167. Available from
http://www.ajronline.org/cgi/reprint/141/1/163.pdf

16. Hammond JMJ et al ; The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility
Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess ;
Chest ; 108 ; 4 ; 1995 ; 937 – 41.

[Accessed on 5 Maret
2011]

17. Bartelett, 2011, Treatment of anaerobic pulmonary infections, Division of
Infectious Disease. The Johns Hopkins Hospital, USA. Available from
http://jac.oxfordjournals.org/content/24/6/836.full.pdf [accessed on 21
Februari 2011]

18. Haight,dkk. Surgical Treatmenr of Peripheral Lung Abscess. Yale Journal
of Biology and Medicine. 235-240. Available from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2606313/pdf/yjbm00577-
0030.pdf [accessed on 21 Februari 2011]

19. Werber, Y.B., 2001. Massive hemoptysis from a lung abscess due to
retained gallstones. Ann Thorac Surg 72. 278-279. Available from
http://ats.ctsnetjournals.org/cgi/content/full/72/1/278 [accessed on 21
Februali 2011]

20. Wali, S.O., dkk. 2002. Percutaneous drainage of pyogenic lung abscess.
Scand Jurnal Infection Disease 34 (9): 673-676. Available from :
http://www.kau.edu.sa/Files/140/Researches/50029_20495.pdf [accessed
21 Februari 2011]

21. Hishberg, B.,dkk 1999 Factors Predicting Mortality of Patients with Lung
Abscess. Chest. Halaman 746-752. Available from
http://chestjournal.chestpubs.org/content/115/3/746.abstract [accessed on
21 Februari 2011)





Universitas Sumatera Utara

javascript:AL_get(this,%20'jour',%20'Pediatr%20Pulmonol.');�
javascript:AL_get(this,%20'jour',%20'Pediatr%20Pulmonol.');�
http://jac.oxfordjournals.org/content/24/6/836.full.pdf�
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2606313/pdf/yjbm00577-0030.pdf�
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2606313/pdf/yjbm00577-0030.pdf�
http://ats.ctsnetjournals.org/cgi/content/full/72/1/278�
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=PubMed&dopt=Abstract&list_uids=12374359�
http://www.kau.edu.sa/Files/140/Researches/50029_20495.pdf�
http://chestjournal.chestpubs.org/content/115/3/746.abstract�

Similer Documents