Download Belajar Dari Sang Murabbi Rahmat Abdullah PDF

TitleBelajar Dari Sang Murabbi Rahmat Abdullah
File Size3.3 MB
Total Pages330
Document Text Contents
Page 165

Belajar Dari Sang Murabbi KH. RAHMAT ABDULLAH



165 | P a g e


Ia berbangga dengan gedung-gedung tinggi berlantai dan berdinding pualam,

mesin pendingin 24 jam, kran dari kuningan dan segala kemewahan yang sesungguhnya

baru boleh dicoba-coba setelah dua puluh tahun, kata para ahli.

Ajaib bahwa ia tak merasa telah membohongi dirinya sendiri, persis seperti

kesebelasan sepakbola suatu negeri berbangga karena punya pemain unggulan dengan

cara membeli dan memasukkan pemain asing ke kesebelasan negerinya. Ia telah lupa

sindiran Arab klasik tentang orang yang membanggakan sesuatu yang bukan miliknya dan

bukan prestasinya: ibili, lam abi‟ wa lam ahab, itu untaku, tak kujual dan tak pula

kuhibahkan. Sudahlah, bukankah orang merdeka cukup dengan sindiran dan budak hanya

paham dengan gebukan? Al hurru yakfihil isyarah wal abdu laa yakfihi illad dharb.



Nasionalisme Tahunan; Laskar di Panggung Tujuhbelas-an

Di atas panggung, Indonesia dalam wajah Joko, Bram, Tiur, dan Laode masih

bertempur dengan bambu runcing, wajah yang dipulas orang dan ikat kepala merah putih.

Dalam jambore dan ketika menaik-turunkan bendera, berulang suatu kredo; menangisi sang

saka dengan khusyu‟ sebagai putera-puteri terbaik bangsa. Di tenda-tenda liburan dan di

pagi-pagi yang penuh bolos, Indonesia yang masih bau kencur melacur dalam seragam dan

tas sekolahnya. Dengan sekotak pil antihamil, bagi yang cerdas.

Hari ini, Indonesia telah kehilangan klaim atas citra diri yang pernah

dibanggakannya: bangsa yang sopan santun, penolong, dan berbudi luhur. Hari ini mereka

mencopet di depan pemandangan beratus mata ragu dan takut dan mata dunia. Ibu-ibu

yang sudah begitu lama meminum air dan menghirup udara Indonesia membekali anak-

anak remaja mereka dengan batu, pentung, peluru senapan angin, dan tabung-tabung

molotov dalam tawuran warga. Demi kehormatan blok hunian dan RW mereka. Sebuah

panggung patriotisme baru dari bangsa miskin yang tanah, hutan, lautan, dan koruptornya

Page 166

Belajar Dari Sang Murabbi KH. RAHMAT ABDULLAH



166 | P a g e


luar biasa kaya. Kini mereka telah kehilangan kata sabar, membakar apa saja: pencuri ayam

dan sepeda, rumah, kendaraan, suami, atau isteri sendiri.

Ada secercah harapan, setidaknya mewakili penulis buku Aku Bangga Menjadi Orang

Indonesia, sebagai kontra aksi terhadap buku Aku Malu Jadi Orang Indonesia. Artinya,

bangga dan malu kadang cukup dijembatani dengan sebuah buku, sementara banyak

persoalan pelik dipecahkan dengan statement dan press release.

Tahun-tahun berlalu, meninggalkan pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur,

bukan lecehan: “Siapa sesungguhnya yang patriot, nasionalis, dan peduli bangsa?“

Hari-hari ini berteriak menuntut: Hentikan semua sikap norak itu! Yang

memberlakukan muslim yang taat dan tak mau seikere kepada benda-benda itu! Begajul

yang menghamili gadis kencur tetangganya, menjadi pengedar obat bius, dan sombong di

hadapan Allah, itukah patriot sejati? Hanya karena mampu menangis sesenggukan

mencium bendera dan membelalak di atas panggung dengan pakaian gerilya?

Sesudah semua musykilah ini, masihkah kader berpuas diri jadi tukang bincang

problem?

Allah telah memberi banyak istilah kepada kebajikan: khair, ihsan, birr, hasanah.

Namun ada satu yang sangat sering diungkap dan berangkaian dengan iman. Itulah amal

shalih. Apakah amal itu jadi shalih sekedar karena dilihat indah dan baik, sementara pada

kata amal shalih nampak kesan: kebaikan itu tidak hanya sekedar baik dilihat secara selintas

dan subjektif. Siapa bisa menjamin seseorang yang shalat Dhuha berpanjang-panjang,

padahal tetangganya sedang panik memadamkan api yang menyala? Shalihkah seseorang

yang hari ini telah melaksanakan haji untuk ketiga belas kalinya, sementara anak tetangga

meregang nyawa karena busung lapar? Apakah amal shalih yang dikerjakan kaum Khawarij

ketika meninggikan suara menuntut inil hukmu illaa lillaah sementara tak henti-hentinya

mereka bertempur melawan khalifah, mengkafirkan sesama mukmin, dan menghalalkan

darah mereka? Padahal, orang-orang kafir bebas berkeliaran dan kaum Mu‘tazilah menipu

Similer Documents