Download diskursus pemikiran politik islam di Indonesia PDF

Titlediskursus pemikiran politik islam di Indonesia
File Size1.0 MB
Total Pages184
Document Text Contents
Page 92

xciii

Menurutnya, dalam kenegaraan Islam memang hanya mengatur dasar dan

pokok-pokoknya saja, seperti halnya kepentingan dan keperluan masyarakat

manusia yang tidak berubah-ubah selama manusia masih bersifat manusia,

baik itu manusia zaman unta, manusia zaman kapal terbang dan lain

sebagainya.
209



Mengenai bersikerasnya M. Natsir dalam memperjuangkan Islam sebagai

dasar negara republik ini, karena ia berpandangan bahwa negara bisa menjadi

alat yang kokoh bagi berlakunya hukum-hukum Islam.
210

Dengan demikian

negara hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan, yakni mewujudkan

ajaran-ajaran Islam.

Sebagaimana di atas, Natsir menegaskan bahwa negara bukanlah tujuan

akhir Islam, melainkan hanya alat untuk merealisasikan aturan-aturan Islam

yang terdapat dalam al-Qur‟an dan sunnah, ia menyebutkan bahwa di antara

aturan-aturan tersebut yaitu kewajiban belajar, kewajiban zakat,

pemberantasan perzinaan dan lain-lain.
211

Menurutnya negara di sini berfungsi

sebagai alat untuk mencapai tujuan “kesempurnaan berlakunya undang-

undang Ilahi,baik yang berkenaan dengan kehidupan manusia

sendiri,(sebagai individu) ataupun sebagai anggota masyarakat”.
212




209

Natsir, Capita Selecta, hlm. 447.

210
Ibid., hlm. 452.

211
Ahmad Suhelmi, Polemik Negara Islam, hlm. 89.

212
Natsir, Capita Selecta, hlm. 442.

Page 93

xciv

Menanggapi statemen tentang tidak adanya doktrin agama yang menyuruh

dan mendirikan negara sebagaimana dinyatakan oleh Soekarno, bahwa tidak

ada ijma„ ulama yang memerintahkan membentuk negara dibantah oleh

Natsir, menurutnya pengutipan ijma„ oleh Soekarno tentang masalah ini

hanya mempersulit persoalan.
213



Menurut Natsir, ada atau tidak adanya Islam, eksistensi negara nerupakan

keharusan di dunia ini dan di zaman apapun, mendirikan negara tidak perlu

disuruh Rasulullah lagi, eksistensi negara telah ada sebelum dan sesudah

Islam, Jadi dengan Islam atau tidak tetap saja merupakan sebuah negara.
214



Melihat pemikiran Natsir tentang dasar negara Indonesia di atas,

menimbulkan kesan bahwa Natsir selama perjuangannya adalah anti

Pancasila, padahal dalam pidatonya di depan Pakistan Institute of World

Affairs pada 1952, sikapnya yang anti Pancasila berubah. Ia menyatakan

bahwa:

Tidak diragukan lagi Pakistan adalah sebuah negeri Islam karena telah

menyatakan Islam sebagai agama negara, begitu pula Indonesia, menurutnya

negara ini juga negeri Islam, karena kenyataannya negara ini diakui sebagai

agama rakyat, meskipun dalam konstitusi kami tidak dinyatakan tegas sebagai

agama negara. Tetapi Indonesia tidak mengeluarkan agama dari sistem

kenegaraan, bahkan kepercayaan tauhid (monothestic belief) telah


213

Ahmad Suhelmi, Polemik Negara Islam, hlm. 89.

214
M. Natsir, Capita Selecta, hlm.442-443.

Similer Documents