Download ikatan van der walls.docx PDF

Titleikatan van der walls.docx
File Size136.5 KB
Total Pages5
Document Text Contents
Page 2

V = Volume gas

T = Temperatur (K)

a dan b = tetapan

R = Tetapan Gas Umum

Dalam keadaan cair dan keadaan padat, gaya-gaya ini lebih besar. Seperti telah

dijelaskan, zat-zat di atas membentuk Kristal molekuler. Satuan-satuan dalam Kristal molekuler

seperti chlor, benzene, dsb. Untuk atom atau molekul-molekul kecil, struktur kristalnya biasanya

tersusun rapat (close packed) karena gaya Van Der Waals tidak mempunyai arah dalam ruang.

Struktur ini terdapat pada gas-gas mulia, Halogen, H2, N2, 02, CO2, HCl, HBr, CH4, C2H6, NH3,

PH3, dan H2S.



2.2 Klasifikasi Gaya Van der Waals

Gaya Van Der Walls dapat dibagi berdasarkan jenis kepolaran molekulnya, yaitu :

1. Interaksi ion – dipole

Gaya antarmolekul ini terjadi antara ion dan senyawa kovalen polar. Ketika

dilarutkan dalam senyawa kovalen polar, senyawa ion akan terionisasi menjadi ion positif

dan ion negatif. Ion positif akan tarik menarik dengan dipol negatif, dan sebaliknya.

Selain gaya ion-dipol, juga dikenal gaya ion-dipol sesaat, dimana terjadi dari interaksi

antar gaya dipol-dipol terinduksi dengan gaya ion-dipol. Jika ion dari senyawa ion

berdekatan dengan molekul nonpolar, ion tersebut dapat menginduksi dipol molekul

nonpolar. Dipol terinduksi molekul nonpolar yang dihasilkan akan berikatan dengan ion.

Interaksi ion - dipol merupakan interaksi (berikatan) / tarik menarik antara ion

dengan molekul polar (dipol). Interaksi ini termasuk jenis interaksi yang relatif cukup

kuat.

Contoh : H+ + H2O → H3O
+

Ag+ + NH3 → Ag(NH3)
+

Sebagai contoh, NaCl (senyawa ion) dapat larut dalam air (pelarut polar) dan

AgBr (senyawa ion) dapat larut dalam NH3 (pelarut polar).



2. Interaksi dipol - dipol

Interaksi dipol - dipol merupakan interaksi antara sesama molekul polar (dipol).

Interaksi ini terjadi antara ekor dan kepala dimana jika berlawanan kutub maka akan

tarik-menarik dan sebaliknya.

Tanda "+" menunjukkan dipol positif, tanda "-" menunjukkan dipol negatif

Molekul seperti HCl memiliki dipol permanen karena klor lebih elektronegatif

dibandingkan hidrogen. Kondisi permanen ini, pada saat pembentukan dipol akan

menyebabkan molekul saling tarik menarik satu sama lain. Molekul yang memiliki dipol

permanen akan memiliki titik didih yang lebih tinggi dibandingkan dengan molekul yang

hanya memiliki dipol yang berubah-ubah secara sementara.

Page 3

Agak mengherankan dayatarik dipol-dipol agak sedikit dibandingkan dengan gaya

dispersi, dan pengaruhnya hanya dapat dilihat jika kamu membandingkan dua atom

dengan jumlah elektron yang sama dan ukuran yang sama pula. Sebagai contoh, titik

didih etana, CH3CH3, dan fluorometana, CH3F adalah:

Keduanya memiliki jumlah elektron yang identik, dan ukurannya hampir sama –

seperti yang terlihat pada diagram. Hal ini berarti bahwa gaya dispersi kedua molekul

adalah sama. Titik didih fluorometana yang lebih tinggi berdasarkan pada dipol permanen

yang besar yang terjadi pada molekul karena elektronegatifitas fluor yang tinggi.

Akan tetapi, walaupun memberikan polaritas permanen yang besar pada molekul,

titik didih hanya meningkat kira-kira 10°.

Berikut ini contoh yang lain yang menunjukkan dominannya gaya dispersi.

Triklorometan, CHCl3, merupakan molekul dengan gaya dispersi yang tinggi karena

elektronegatifitas tiga klor. Hal itu menyebabkan dayatarik dipol-dipol lebih kuat antara

satu molekul dengan tetangganya.



Dilain pihak, tetraklorometan, CCl4, adalah non polar. Bagian luar molekul tidak

seragam - in pada semua arah. CCl4 hanya bergantung pada gaya disperse.

3. Interaksi ion - dipol terinduksi

Interaksi ion - dipol terinduksi merupakan interaksi antara aksi ion dengan dipol

terinduksi. Dipol terinduksi merupakan molekul netral yang menjadi dipol akibat induksi

partikel bermuatan yang berada didekatnya. Partikel penginduksi tersebut dapat berupa

ion atau dipol lain dimana kemampuan menginduksi ion lebih besar daripada kemampuan

menginduksi dipol karena muatan ion yang juga jauh lebih besar. Interaksi ini relatif

lemah karena kepolaran molekul terinduksi relatif kecil daripada dipol permanen.

Contoh : I- + I2 → I3

4. Interaksi dipol - dipol terinduksi

Suatu molekul polar yang berdekatan dengan molekul nonpolar, akan dapat

menginduksi molekul nonpolar. Akibatnya. Molekul nonpolar memiliki dipol terinduksi.

Dipol dari molekul polar akan saling tarik-menarik dengan dipol terinduksi dari

molekul nonpolar. Contohnya terjadi pada interaksi antara HCl (molekul polar) dengan

Cl2 (molekul nonpolar).

5. Interaksi dipol terinduksi - dipol terinduksi

Mekamisme terjadinya interaksi dipol terinduksi - dipol terinduksi :

Pasangan elektron suatu molekul, baik yang bebas maupun yang terikat selalu

bergerak mengelilingi inti elektron yang bergerak dapat mengimbas atau menginduksi

sesaat pada tetangga sehingga molekul tetangga menjadi polar terinduksi sesaat molekul

ini pula dapat menginduksi molekul tetangga lainnya sehingga terbentuk molekul-

molekul dipol sesaat.



2.3 Fakta Yang Menunjukkan Adanya Gaya Van der Waal

Page 4

Banyak bukti menunjukkan bahwa ada gaya tarik antara molekul,contohnya Cl2.

Cl Cl . . . . . . . . Cl Cl

Gaya van der waals

Gaya ini disebut gaya van der waals dan sangat lemah dibandingkan ikatan ion

dan kovalen.Dalam molekul Cl2 terdapat ikatn kovalen dengan energi ikatan 240

kj/mol,dan antara molekul Cl2 terdapat gaya van der waals sebesar 21 kj/mol.

Gaya van der waals dapat terjadi antara partikel yang sama atau berbeda .sama

halnya dengan gaya kohesi (gaya antara partikel – partikel zat yang sama ) yang di

pelajari disekolah lanjutan. Gaya ini terjadi karena adanya sifat kepolaran partikel

tersebut. Makin kecil kepolaran makin kecil pula gaya van der waals-nya



2.4 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Ikatan Van Der Waals

Gaya London ini dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

1. Jumlah electron dalam atom atau molekul

Makin besar ukuran atom atau molekul, makin besar jumlah elektron sehingga

makin jauh pula elektron terluar dari inti dan makin mudah awan elektron terpolarisasi,

serta makin besar gaya dispersi.

2. Bentuk molekul

Molekul yang memanjang/tidak bulat, lebih mudah menjadi dipole dibandingkan

dengan molekul yang bulat sehingga gaya disperse londonnya akan semakin besar.

Ikatan Van der Waals juga ditemukan pada polymer dan plastik. Senyawa ini

dibangun oleh satu rantai molekul yang memiliki atom karbon, berikatan secara kovalen

dengan berbagai atom seperti hidrogen, oksigen, nitrogen, dan atom lainnya. Interaksi

dari setiap untaian rantai merupakan ikatan Van der Waals. Hal ini diketahui dari

pengamatan terhadap polietilen, polietilen memiliki pola yang sama dengan gas mulia,

etilen berbentuk bentuk gas menjadi cairan dan mengkristal atau memadat sesuai dengan

pertambahan jumlah atom atau rantai molekulnya. Dispersi muatan terjadi dari sebuah

molekul etilen, C2H4, yang menyebabkan terjadinya dipol temporer serta terjadi interaksi

Van der Waals. Dalam kasus ini molekul H2C=CH2, selanjutnya melepaskan satu

pasangan elektronnya dan terjadi ikatan yang membentuk rantai panjang atau polietilen.

Pembentukan rantai yang panjang dari molekul sederhana dikenal dengan istilah

polimerisasi.

3. Kepolaran molekul

Karena Ikatan Van Der Waals muncul akibat adanya kepolaran, maka semakin

kecil kepolaran molekulnya maka gaya Van Der Waalsnya juga akan makin kecil.

1. Titik didih gas mulia adalah



helium

-269°C

Similer Documents