Download Jurnal Aletheia Vol 15 No 4 2013 PDF

TitleJurnal Aletheia Vol 15 No 4 2013
File Size486.4 KB
Total Pages93
Table of Contents
                            Page 1
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24
Page 25
Page 26
Page 27
Page 28
Page 29
Page 30
Page 31
Page 32
Page 33
Page 34
Page 35
Page 36
Page 37
Page 38
Page 39
Page 40
Page 41
Page 42
Page 43
Page 44
Page 45
Page 46
Page 47
Page 48
Page 49
Page 50
Page 51
Page 52
Page 53
Page 54
Page 55
Page 56
Page 57
Page 58
Page 59
Page 60
Page 61
Page 62
Page 63
Page 64
Page 65
Page 66
Page 67
Page 68
Page 69
Page 70
Page 71
Page 72
Page 73
Page 74
Page 75
Page 76
Page 77
Page 78
Page 79
Page 80
Page 81
Page 82
Page 83
Page 84
Page 85
Page 86
Page 87
Page 88
Page 89
Page 90
Page 91
Page 92
Page 93
                        
Document Text Contents
Page 2

JURNAL THEOLOGI ALETHEIA

Diterbitkan oleh :

Sekolah Tinggi Theologia Aletheia (STT Aletheia)

Alamat Redaksi :

Sekolah Tinggi Theologia Aletheia
Jl. Argopuro 28-34 (PO. Box 100)

Lawang 65211, Jawa Timur
Telp. 0341-426617 ; Fax : 0341 - 426971

E-mail : [email protected]

Rekening Bank :
BCA Cabang Malang No. 011-3099-744

a/n. Sinode GKT ITA Lawang

Staff Redaksi :

Penasehat : Pdt. Kornelius A. Setiawan, Th.D.
Pemimpin : Pdt. Amos Winarto, Ph.D.
Anggota : Pdt. Sia Kok Sin, D.Th.

Pdt. Iskandar Santoso, Th.M.
Pdt. Marthen Nainupu, M.Th.
Pdt. Dr.Agung Gunawan, Th.M.
Pdt. Mariani Febriana, Th.M.

Bendahara : Pdt. Alfius Areng Mutak, Ed.D.
Publikasi & : Suwandi & Adi Wijaya
Distributor

Tujuan Penerbitan :

Memajukan aktivitas karya tulis Kristen melalui medium penelitian
dan pemikiran di dalam kerangka umum disiplin teologia

Reformatoris

Page 46

46 JTA Vol. 15 No. 4, Maret 2013

Sebenarnya semangat pemikiran pluralisme bukanlah hal yang baru,
bagi gereja atau jika kita mau melihat lebih jauh kebelakang, maka
semangat pluralisme itu kita akan segera temukan juga di dalam kelahiran

2
agama Yahudi . Sedangkan kalau kita berbicara tentang kehadiran agama
Kristen di Indoneia, memang agama kristen hadir di tengah-tengah agama
lainnya. Sebab realitas Indonesia sejak awalnya memang terdiri dari
kemajemukan dalam banyak hal. Hal tersebut kita semua tahu manakala
para pendiri negeri kita sudah mendeklarasikan keberagaman itu, dalam
suatu kalimat yang pendek: “Bhineka Tunggal Ika”. Tetapi dalam
perkembangan selanjutnya pemikiran tersebut mengalami berbagai
kebekuan dan bahkan terkesan kecenderungan untuk melupakannya.

Bilamana kita mau menengok sedikit jauh ke belakang, kita akan

segera menemukan akar-akar pemikiran pluralisme dalam tradisi pemikiran

Yunani kuno. Istilah pluralitas – maupun pluralism, yang belakangan ini

sangat popular, sebenarnya bukanlah suatu istilah yang baru, melainkan itu

merupakan suatu istilah yang sudah usang. Hal itu kita dapat melacaknya

dari para ahli pikir jaman Yunani kuno. Pada jaman pra Sokrates misalnya,

gagasan pemikiran pluralisme sudah dirintis oleh Protagoras dengan

slogannya yang terkenal “Manusia adalah satu-satunya ukuran bagi segala
3

sesuatu ”(Man is the measure of all things). Dari pernyataan Protagoras

tersebut telah terlihat dengan jelas semangat dan benih pluralism. Tetapi

kalau kita mundur sedikit ke belakang sebelum Protagoras, di sana kita

menemukan Herakletus, filosof dari Efesus, ia sudah menggagas ide awal

dari pemikiran pluralism. Filsafat Herakletus sering disebut dengan nama

“filsafat menjadi”. Artinya segala sesuatu di alam semesta ini sedang

menjadi dan selalu berada di dalam perubahan, tidak ada yang tetap,

semuanya mengalir. “Panta Rei Uden Menei” yang artinya bahwa segala
4

sesuatu mengalir tidak ada yang tinggal diam”. Ia mengakui bahwa realitas

itu satu tetapi pada saat yang sama ia banyak dan itu bukan soal aksidental

melainkan essensial.

Dalam perjalanannya, pemikiran pluralis kurang memperoleh tempat
dalam kancah perdebatan filosofis. Sokrates sendiri adalah penentang
utama aliran berpikir pluralis. Pemikiran pluralis semakin hilang
pengaruhnya ketika dunia peradaban filsafat dikuasai oleh pemikiran
filsafat dan teologi Kristen. Dalam era filsafat dan teologi Kristen, semua
faham pemikiran politeisme Yunani dihapus dan diganti dengan pemikiran
monoteisme Kristen. Selama masa tersebut, pemikiran pluralism boleh
dikatakan hilang kekuatannya dalam berbagai diskusi filsafat.

Dalam tidur panjangnya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan hadirnya

jaman Renaisanse yang menempatkan manusia sebagai pusat pemikiran

Page 47

Pluralisme Oikumenis dan Implikasi Pelayanan Pastoral 47

segala filsafat. Selama era ini pemikiran pluralis kembali bergema dan

menjadi pokok diskusi para filosof, terutama para pemikir dari aliran

empirisme. Pemikiran-pemikiran dengan aliran pluralism terus bergulir

sejak era modern dan boleh dikatakan telah mencapai puncaknya di era

postmodern ini.

Semangat postmodern dan demokratisasi telah membuka peluang

yang sangat besar bagi hadirnya pluralism di tengah-tengah kehidupan

umat manusia. Memang harus diakui bahwa pluralism itu merupakan

bagian integral dari kehidupan umat manusia, akan tetapi pada masa

sebelum era kita hari ini, gerak pluralism itu masih sangat lambat dan hanya

dapat hidup dan bertahan secara local. Namun dengan datangnya era

paska modern ini, maka kekuatan pluralism semakin tampil mengemuka di

mana-mana. Hampir dapat dikatakan bahwa sudah tidak ada lagi batas-

batas antara berbagai bagian dari kehidupan ini. Semangat pluralism telah

menghapus semua pemikiran tunggal dan menggantikannya dengan

pemikiran pluralism. Dalam bahasa Nietzsche, kebenaran adalah selalu

bersifat perspektifal. Artinya kebenaran selalu berada dalam perspektif-

perspektif tertentu. Di sini terlihat dengan jelas semangat pluralism yang

berujung kepada semangat relativisme, kekosongan dan kehampaan.

Ekses-ekses seperti inilah yang memunculkan berbagai reaksi terhadap

pemikiran-pemikiran pluralism. Kalau kita mau melacak lebih jauh lagi soal

pro dan kontra tentang pluralisme, kita bisa membuat buka dengan beratus-

ratus halaman, sebab yang mendukung maupun yang menolak sangat

banyak, baik teolog, filosof, maupun awam. Pluralisme telah memecah

keseragaman berpikir dalam kelompok, misalnya para teolog dari gereja-

gereja Timur lebih senang dengan pluralisme, sedangkan teolog dari
5

gereja-gereja barat lebih cenderung menolak pimikiran pluralisme .

Memang memperdebatkan soal apa itu pluralisme, tidak akan pernah

habis-habisnya. Melalui tulisan ini saya mencoba untuk memahami

pluralisme dalam kaitannya dengan pelayanan pastoral. Dengan demikian,

percakapan ini hanya akan menampilkan sekilas beberapa pemikiran pro

maupun kontra. Tetapi yang lebih utama ialah bagaimana para pelayan

pastoral mengembangkan suatu sikap penuh empati untuk memanfaatkan

semangat pluralisme ini bagi keutuhan pelayanan.

APA ITU PLURALISME

Memahami pluralisme

Dari percakapan sebelumnya kita sudah melihat sekilas mengenai
akar-akar pemikiran pluralisme dari pemikiran filsafat, tetapi apakah

Similer Documents