Download Makalah Agama Hindu PDF

TitleMakalah Agama Hindu
File Size119.7 KB
Total Pages13
Document Text Contents
Page 6

diselenggarakan di jabaan pura dengan tetap diikat oleh tata krama yang semestinya berlaku
dalam areal pura.

Kalaupun tajen dilaksanakan bukan di kekeran tempat suci dan dalam konteks upacara (dan
umumnya dilaksanakan enam bulan sekali) maka sebelum dilaksanakan sambung ayam dapat
dipastikan selalu akan didahului dengan upacara keagamaan. Setidaknya dalam areal itu akan
dipasang sanggah cucuk yang salah satu maknanya mengingatkan manusia agar dalam menjalani
kehidupan yang sarat dengan aspek gambling, senantiasa tetap berada pada koridor kejujuran,
etika, sopan-santun, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pemantapan makna itu. Artinya,
sekalipun disadari ada unsur judi yang melekat pada pelaksanaan tabuh rah, tetapi unsur-unsur
judi senantiasa dicoba diminimalkan dengan proses ritual dan simbolis. Sebaliknya, saat ini tajen
cenderung dilaksanakan sepanjang waktu lepas dari konteks upacara. Jikapun dilaksanakan
dalam konteks upacara, acapkali hal itu dilaksanakan sebagai kamuflase dari sebuah upacara
tertentu, yang boleh jadi tidak apa-apa jika tidak diisi dengan tajen.

Tajen pada masa yang lalu umumnya dilaksanakan oleh desa dan atau banjar adat dengan
berbagai prosedur, ketaatan warga untuk mentaati perarem yang telah mereka rumuskan,
percayai, dan dijadikan pedoman bertingkah laku. Jikapun karena kemampuannya seorang warga
diminta mengkoordinasikan pelaksanaan tajen maka orang itu tetap tunduk pada desa dan banjar
adat yang menjadi penanggung jawab pelaksanaan tejen. Jadi, segala hak dan kewajiban yang
melekat pada kedudukan sebagai koordinator pelaksanaan tajen, bukan merupakan hak dan
kewajiban individu. Belakangan ini malahan tajen acapkali diselenggarakan oleh individu dan
atau kelompok orang dengan hak-hak dan kewajiban yang diklaim sebagai hak individu atau
kelompok, lepas dari tanggung jawab desa atau banjar adat. Tentu yang lebih memprihatinkan
lagi jika betul adanya sinyalemen keterlibatan oknum aparat dalam penyelenggaraan tajen
misalnya, dengan meminta hasil satu kali putaran dari siklus yang disepakati.

Pola ini membawa konskuensi yang amat luas secara sosiologis. Jika pada masa lalu, tajen tidak
dapat dihindarkan pelaksanaan maupun unsur judinya, tetapi tajen tetap dapat dikendalikan dan
diisolir secara relatif. Sirkulasi ‘kekayaan’ warga, juga bergerak di sekitar itu dengan nilai yang
relatif terjangkau. Sebaliknya, dengan network individu atau kelompok penyelenggara semakin
luas, semakin terbuka pula adanya kapital ‘asing’ masuk ke dalam tataran ekonomi lokal
sehingga keseimbangan sirkulasi ekonomi kerakyatan tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi
rekreasi, releksasi, dan pelepasan dari berbagai kesuntukan sebagaimana dinyatakan Geertz tidak
lagi dapat dipenuhi, malahan ketegangan-ketegangan baru mulai tercipta.

Ketegangan-ketegangan itu merupakan wujud awal dari sebuah pertikaian. Dalam upacara
keagamaan, justru pertikaian itulah yang membuat pasangan oposisi. Dalam pertikaian, dalam
perang, dan dalam kematian yang diakibatkannya, hadir suatu yang transenden. Daya-daya hidup
ini justru hadir dalam bentuk kematian. Kematian adalah kehidupan. Perang adalah syarat
perdamaian, kemakmuran, dan kesuburan. Bagi si pemenang dan yang dikalahkan kematian
diperlukan agar hidup dapat dilanjutkan. Ini bukan berarti masyarakat tidak menjalanan hidup
dalam kelompok-kelompok sosial. Hidup bersama dalam satu kelompok itu kodrati karena
manusia memang makhluk sosial. Manusia tidak mungkin hidup sendirian. Akan tetapi
kesosialan ini juga tetap berpegang teguh pada prinsip pemisahan. Setiap banjar atau desa
pakraman mempunyai pasangan banjar atau desa pakraman masing-masing. Pasangan-pasangan

Page 13

http://soulemotionoye.blogspot.com/2012/11/tajen-tabuh-rah-di-bali.html
http://praptablog.blogspot.com/2011/12/tajen-menyebabkan-pergeseran-moral.html/30-04-204
http://dharmavada.wordpress.com/2010/03/10/judi-menurut-hindu/29-04-2014
http://www.cakrawayu.org/artikel/8-guru-sukarma/62-tajen-dalam-masyarakat-bali.html/29-04-2014
http://www.cakrawayu.org/artikel/8-guru-sukarma/62-tajen-dalam-masyarakat-bali.html/29-04-2014
http://kotakinformasi.wordpress.com/2011/02/13/%E2%80%9Ctajen%E2%80%9D-judi-budaya-atau-kah-yadnya/
http://kotakinformasi.wordpress.com/2011/02/13/%E2%80%9Ctajen%E2%80%9D-judi-budaya-atau-kah-yadnya/

Similer Documents