Download Pepatah bugis PDF

TitlePepatah bugis
File Size182.9 KB
Total Pages14
Document Text Contents
Page 7

Lebbik-i cau-caurennge’ napellorennge’ (Lebih baik sering kalah daripada pengecut). Artinya: Orang

yang sering kalah, masih memiliki semangat juang meskipun lemah dalam menghadapi tantangan.

Sedangkan seorang pengecut, sama sekali tak memiliki keberanian ataupun semangat untuk berusaha

menghadapi tantangan

Malai bukurupa ricau’e, mappalimbang ri maje’ ripanganroe’ (Memalukan kalau dikalahkan, mematikan

kalau ditaklukkan). Artinya: Dikalahkan karena keadaan memaksa memang memalukan. Sedangkan

takluk sama halnya menyerahkan seluruh harga diri, dan orang yang tidak memiliki harga diri sama

halnya mati.

Naiya tau malempuk-e’ manguruk manak-i tau sugi-e (Orang jujur sewarisan dengan rang kaya). Artinya:

Orang jujur tidak sutit memperoleh kepercayaan dari orang kaya karena kejujurannya.

Masse’sa panga, temmase’sa api, masse’sa api temmas’esa botoreng (Bersisa pencuri tak bersisa api,

bersisa api tak barsisa penjudi). Artinya: Sepintar-pintarnya pencuri, dia tidak mampu mengambil

semua barang (misalnya mengambil rumah atau tanah). Akan tetapi sebesar-besarnya kebakaran hanya

mampu menghancurkan barang-barang (tanah masih utuh). Akan tetapi seorang penjudi dapat

menghabiskan seluruh barang miliknya (termasuk tanah dalam waktu singkat).

Mau mae’ga pabbise’na nabonngo ponglopinna te’a wa' nalureng (Biar banyak pendayungnya, tetapi

badoh juru mudinya takkan ku jadi penumpangnya. Artinya: Kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh

banyak hal , tetapi yang paling menentukan adalah kecakapan dan rasa tanggung jawab kepala rumah

tangga itu sendiri

Naiya accae ripatoppoki je’kko, aggato aliri, nare’kko te’yai maredduk, mapoloi (Kepandaian yang

disertai kecurangan ibarat tiang rumah, lalu tidak tercerabut ia akan patah. Artinya: Di Bugis, tiang

rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke

dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan. Kiasan terhadap orang pandai tetapi tidak jujur.

Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa bencana (malapetaka).

Narekko mae’lokko tikkeng se’uwa olokolok sappak-i bate’lana. Narekko sappakko dalle’k sappak-i

mae’gana bate’la tau (Kalau ingin menangkap seekor binatang, carilah jejaknya. Kalau mau rezeki,

carilah di mana banyak jejak manusia). Artinya: Pada hakikatnya, manusialah yang menjadi pengantar

rezeki, sehingga di mana banyak manusia akan ditemui banyak rezeki.



Mappasitinaja

Mappasitinaja berasal dari kata sitinaja yang berarti

pantas, wajar atau patut. Mappasitinaja berarti berkata

atau berbuat patut atau memperlakukan seseorang secara

wajar. Definisi kewajaran diungkapkan oleh cendekiawan

Luwu sebagaimana dikutip oleh Ambo Enre (1992) sebagai

Similer Documents