Download Teori Kelembagaan PDF

TitleTeori Kelembagaan
File Size202.3 KB
Total Pages8
Document Text Contents
Page 6

Menurut penjelasan Dahl, Polsby, dan penganut aliran pluralis lainnya, kekuasaan dianggap didistribusikan

secara luas dan sistem politik sangat teratur sehingga proses politik pada esensinya dikendalikan oleh tuntutan

dan opini publik. Dahl dalam studinya tentang New Haven (1961), menyatakan bahwa: ―sistem politik Amerika

tidak terdiri dari kelas homogen dengan kepentingan kelas yang terdefinisi dengan baik. Dalam kenyataan,

sistem politik di New Haven mudah ditembus oleh siapa saja yang memerhatikan dan berkepentingan dengan

kultur stratum politik‖ (Wayne Parsons, 2008: 137). Menurut Steven Lukes tentang model pluralis ini

mengatakan fokus analisisnya ialah terletak pada perilaku, pembuatan keputusan, isu-isu kunci, konflik yang

terbuka dan dapat diamati, serta kepentingan preferensi subjektif yang bisa diamati dalam partisipasi politik

terbuka (Wayne Parsons, 2008: 145)

Di wilayah pluralis, setidaknya di Haven, partisipasi dalam permainan politik terbuka untuk semua orang. Akan

tetapi pandangan demokrasi liberal ini ditentang oleh Schattschneider ketika dia mengatakan, ―tidak selalu benar

bahwa orang dengan kebutuhan terbanyak akan paling aktif dalam partisipasi di pentas politik—barang siapa

yang menentukan permainan akan berlaku maka ia juga akan menentukan siapa yang boleh masuk ke

permainan‖. Dahl, misalnya berpendapat bahwa kekuasaan terletak dalam kapasitas A untuk membuat B

melakukan sesuatu yang sebenarnyatidak diinginkan oleh B. Kekuasaan dalam pengertian ini mencakup kontrol

perilaku. Dahl menunjukan bahwa kekuasaan didistribusikan di antara kelompok, pembuat kebijakan di area

seperti pendidikan dan pembangunan kembali (redevelopment) kawasan urban dilakukan oleh sederetan oleh

kalangan minoritas, bukan lagi oleh oleh elite tunggal. Seperti dikatakan oleh Polsby: ―dalam setiap bidang isu,

muncul aktor yang berbeda-beda, perannya juga berbeda serta jenis alternatif yang mereka pilih juga berbeda-

beda. Namun, dalam merespon model ini Bachrach dan Baratz mengatakan bahwa hal yang gagal dipahami oleh

pluralis adalah sejauh mana pihak-pihak yang berkuasa itu bisa menyingkirkan isu dan problem dari agenda

pembuatan kebijakan. Politik bukan sekedar seperti yang didefinisikan Laswell sebagai persoalan ―siapa yang

mendapat, kapan, dan bagaimana dia mendapatkan‖, tetapi juga siapa yang disingkirkan – kapan dan bagimana

ia disingkirkan (Wayne Parsons, 2008: 137-138).

Similer Documents