Download Tiupan Kesembuhan Sang Dukun ‘Sando’. Etnik Tolitoli – Kabupaten Tolitoli PDF

TitleTiupan Kesembuhan Sang Dukun ‘Sando’. Etnik Tolitoli – Kabupaten Tolitoli
File Size4.1 MB
Total Pages161
Table of Contents
                            Tolitoli z.JPG
28 LAP Toli-toli REVISI ber ISBN 6 Desember 2016.pdf
                        
Document Text Contents
Page 2

iii



Tiupan Kesembuhan
Sang Dukun ‘Sando’

Etnik Tolitoli – Kabupaten Tolitoli









M. Gullit A.W
Ummu N.

FX Sri Sadewo



























Penerbit

Unesa University Press

Page 80

62



Berdasarkan data dari profil puskesmas diperoleh informasi bahwa

selama tahun 2013 terdapat 8 kasus positif TB dari sejumlah 92 kasus yang

diperiksa di laboratorium. Untuk desa Sambujan wilayah dusun I, terdapat 1

orang yang diketahui suspek TB sejak kurang lebih 4 tahun lalu.

Penderita bernama Hm, berusia 28 tahun. Pada saat observasi,

penderita TB Paru beristirahat di kamarnya. Menurut masyarakat sekitar

Hm, penyakit tersebut menyerang Hm dikarenakan keturunan, yaitu dari

ayah Hm yang sedang berada di Tarakan. Selain itu, Hm juga dulunya sering

kerja malam sehingga menyebabkan long, mengkonsumsi obat-obatan,

minum-minuman dan kurang tidur. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Sg,

sebagai berikut:

anu, anaknya ini memang pengaruh minuman.
Umur belum sesuai to, sudah minum dia. Akhirnya itu paru-
paru di dalam itu hangus. Bawah umur masih usia anak-anak
sekali. Itu minum-minuman itu, eh, panas itu kalau macam
ter-anu itu, cap tikus itu. A mak



Berdasarkan informasi dari bidan desa, Hm sempat meminum obat

TB, namun tidak dituntaskan. Saat ia merasa dirinya sehat, ia berhenti

meminum obat dan kembali bekerja. Menurut Pak Sg, salah seorang

keluarga Hm, Hm tidak dibawa berobat lebih lanjut dikarenakan alasan

ekonomi yang kurang. Selanjutnya, saat penyakitnya kambuh, ia hanya

mengkonsumsi obat dari Tiens dan Paramex. Saat dirasa obat tersebut tidak

mempan, ibunya meminta bidan desa agar dibawakan obat TB untuknya.

Namun sebelum obat datang, keluarga Hm akhirnya memutuskan untuk

membawa Hm ke rumah sakit di kota karena dirasa sudah semakin parah.

Sayangnya, pasien meninggal setelah meminta untuk keluar dari rumah sakit

di hari yang sama.

Dahulu, menurut informasi yang diperoleh dari tenaga kesehatan

maupun salah seorang masyarakat setempat, di Desa Sambujan sempat

terjadi wabah TB. Hal ini sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh

informan, Pak Sn, salah seorang guru di SDN I Sambujan, sebagai berikut:

“...dulu ada banyak penyakit TB, sebelum ada tenaga kesehatan. Yang kena

TB pasti mati, belum ada yang selamat...”

Page 81

63



Dahulu, menurut keterangan salah seorang warga, penyakit ini

disebut juga dengan penyakit long oleh warga. Menurut Pak Sn,

kemungkinan penyakit long ini dikarenakan pekerjaan warga yang

mengharuskan mereka turun ke laut ketika malam hari. Pada saat itu,

kunjungan oleh tenaga kesehatan masih jarang atau masih belum rutin

dilakukan, minimal tiga bulan sekali. Penyakit ini akhirnya diketahui sebagai

penyakit TB saat ada salah satu warga yang memeriksakan diri ke kota. Sejak

saat itu, akhirnya warga mengenal penyakit long ini sebagai penyakit TB.

Angka TB yang tinggi kemudian dapat dikendalikan, bahkan sudah hampir

tidak ada di Sambujan. Salah satunya adalah karena sudah ditangani oleh

Tim P2TB Puskesmas Ogodeide.

Menurut persepsi masyarakat sendiri, long dipersepsikan sebagai

penyakit yang diakibatkan oleh kebiasaan mandi malam atau kedinginan.

Darisanalah kemudian muncul larangan untuk mandi malam agar tidak

terkena long. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Wdh, sebagai berikut:

long itu kan, kalau saya dengar
orang-orang di sini kan, jangan sering mandi malam itu, dingin,
bisa keluar darah di hidung. Itu namanya penyakit long. Kalau
datang penyakitnya... tidak bisa kerja berat betul.. biasa orang
bilang kan, jangan sekali-sekali mandi malam, nak. Kena long




Menurut Pak Sg dan Bu Sg, penyakit long dan TB merupakan

penyakit yang serupa, tapi tak sama. Kedua penyakit itu adalah penyakit

yang bersaudara. Penyakit long disebabkan oleh hawa dingin. Salah satu

sebabnya, ketika melaut di malam hari, nelayan membuka baju karena

merasa panas, sehingga dingin tanpa terasa merasuk.

Perbedaan antara TB dan long menurut keduanya lagi, adalah bahwa

penyakit TB bisa menyerang perempuan maupun laki-laki, sedangkan long

kebanyakan menyerang kaum lelaki saja dikarenakan kaum lelaki sering

turun ke laut di malam hari dan perempuan lebih banyak di rumah.

Disebutkan pula bahwa ciri-ciri TB adalah batuk terus menerus, sesak nafas

atau bahosa, kurus, dan ada yang muntah darah dan adapula yang tidak.

Sedangkan untuk pengobatan baik long maupun TB adalah melalui

pengobatan dokter.

Page 160

142



proses persalinan. Sando yang bidan kampung pun seringkali juga memberikan

pertolongan pertama dengan metode tiup-tiup saat ibu mengalami kesulitan

dengan proses persalinannya. Barulah apabila Sando yang bidan desa tidak

mampu menangani, akan dipanggillah Sando ahli tiup-tiup. Terus-menerus

bergantian hingga ditemukan kecocokan. Barulah apabila tetap tidak berhasil,

ibu baru dirujuk ke fasilitas kesehatan. Termasuk untuk pengobatan bayi dan

anak.

Metode pengobatan dengan tiup-tiup masih sering dicari oleh

masyarakat. Hal ini dikarenakan pola pengobatan pertama yang sering

digunakan oleh masyarakat adalah dengan cara mengusahakan pengobatan

sendiri, baik dengan membeli obat di warung, maupun dengan pengobatan

tradisional tiup-tiup Sando. Barulah orang yang sakit akan dibawa ke fasilitas

kesehatan 2 atau bahkan 3 sampai 4 hari kemudian, ketika sakitnya tak kunjung

sembuh. Macam penyakit bayi dan anak yang biasa disembuhkanpun bervariasi,

mulai penyakit yang disebut bayi kaget hingga penyakit seperti sakit perut.

Cara melakukan metode tiup-tiup

tertentu setelah membaca kalimat syahadat, kalimat tobat, dan basmallah

terlebih dahulu. Barulah setelah itu, Sando

dengan cara seperti membuang nafas biasa ke arah bagian yang sakit, atau ke

ditiup ke

media lain seperti misalnya minyak kampung yang digunakan untuk baurut.



6.2 REKOMENDASI

Kunci keberhasilan pengobatan tradisional dengan metode tiup-tiup

adalah keyakinan. Hal ini memang positif mengingat keyakinan dikatakan

sebagai separuh modal kesembuhan (Soenarwo, 2009). Namun, tampaknya hal

tersebut perlu diimbangi dengan pengobatan medis pula, dikarenan sumber

datangnya penyakit dikenal ada dua, yaitu magis dan medis. Terlambatnya

rujukan ke fasilitas kesehatan atau tenaga kesehatan pada penyakit yang

disebabkan oleh penyebab medis dapat menyebabkan keterlambatan

pengenalan dini terhadap penyebab penyakit. Bahkan, keterlambatan pada

pertolongan secara medis dapat berisiko hingga ke arah kematian.

Sehingga, dalam hal ini dirasa perlu adanya pembagian penyakit antara

yang disebabkan oleh magis dan yang disebabkan oleh medis. Untuk itu,

pembagian ranah pengobatan antara Sando dengan tenaga kesehatan perlu

Page 161

143



untuk lebih diperjelas, dimana Sando dan tenaga kesehatan diharapkan untuk

bisa bekerja sama dalam hal pembagian ranah pengobatan, misalnya Sando

lebih berperan pada pengobatan penyakit magis, sedangkan tenaga kesehatan

lebih berperan aktif dalam melaksanakan tugasnya untuk pengobatan penyakit

secara medis.

Selain itu, sebagai tindak lanjut atas adanya bidan kampung non

terlatihyang memberikan pertolongan persalinan kepada ibu melahirkan.

Rasanya perlu dilakukan revitalisasi terhadap program pelatihan bidan kampung

tersebut. Begitupula terhadap pembagian tugas antara bidan desa-bidan

kampung. Hendaknya positioning bidan kampung bukan berada di bawah bidan

desa, melainkan berperan sebagai mitra. Pengawasan terhadap kerjasama

antara bidan desa dan bidan kampung tersebut perlu diperkuat. Apabila

diperlukan, punishment berupa denda, atau hukuman pidana perlu diberikan

terhadap bidan kampung yang tidak bisa diajak kerjasama. Sedangkan bagi

bidan kampung yang mau diajak kerjasama dan kinerjanya baik, dapat diberikan

reward untuk mempertahankan kinerjanya dan bisa menjadi inspirator bagi

bidan yang lainnya.

Similer Documents