Download turap bambu PDF

Titleturap bambu
File Size3.5 MB
Total Pages10
Document Text Contents
Page 4

42 Penggunaan Bambu ut Mengatasi Sliding- Reklamasi Di Tanah Lunak (Helmy)

dimana :
 = pengali plastis
g = fungsi potensial plastis

Untuk kondisi elastis maka nilai =0, sedangkan pada kondisi plastis nilai  positif
(> 0) dan hubungannya adalah sebagai berikut :
 = 0 (elastis) :

f < 0 atau 



*D*

f e
T

 0 (4)

 > 0 (plastis) :

f = 0 dan 



*D*

f e
T

> 0 (5)

Fungsi leleh dalam term tegangan utama dari model Mohr-Coulomb
adalah sebagai berikut :

f1 = 0.5 (2-3)+0.5 (2+3) sin-c cos  0 (6)
f2 = 0.5 (3-1)+0.5 (3+1) sin-c cos  0 (7)
f3 = 0.5 (1-2)+0.5 (1+2) sin-c cos  0 (8)

Kemudian fungsi potensial plastis didefinisikan untuk model Mohr-
Coulomb adalah sebagai berikut :
g1 = 0.5 (2-3)+0.5 (2+3) sin  0 (9)
g2 = 0.5 (3-1)+0.5 (3+1) sin  0 (10)
g3 = 0.5 (1-2)+0.5 (1+2) sin  0 (11)
dimana :
 = sudut geser dalam tanah
 = sudut dilatansi tanah

Model Beam. Bambu dapat dimodelkan sebagai beam. Adapun ketebalan
masif dan kekakuan geser beam dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut:

EA
EI

12deq 
(12)

)1(*12
EA*5

stifnessshear


 (13)

dimana :
deq = tebal masif beam
EI = flexural rigidity
EA = axial stiffness
 = angka poisson

Page 6

44 Penggunaan Bambu ut Mengatasi Sliding- Reklamasi Di Tanah Lunak (Helmy)

Diskretisasi Elemen Hingga [1]. Dalam bentuk incremental, pendekatan
terhadap hubungan non linier ini dapat dinyatakan sebagai :

    dQdqk t  (14)
dimana :
kt = matrix kekakuan sistem
dq = vektor perpindahan
dQ = vektor pembebanan

Didalam prosedur numerik matrix kekakuan [kt] biasanya dinyatakan
sebagai :
      dVBCBk tv Tt  (15)
dimana :
[B]T = matrix transformasi regangan
[B] = matrix interpolasi regangan
[Ct] = matrix konstitutif
dV = pertambahan volume elemen

Perilaku material tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk :
     dCdσ t (16)

dimana :
{d} = vektor pertambahan tegangan
{d} = vektor pertambahan regangan
atau dalam bentuk tensor persamaan (16) menjadi :

kl ijklij Cd (17)
dimana :
Cijkl = tangen tensor konstitutif

Kestabilan Lereng [3]. Material yang membentuk lereng memiliki
kecenderungan tergelincir dibawah beratnya sendiri dan gaya luar yang
ditahan oleh kuat geser tanah dari material tersebut. Gangguan terhadap
kestabilan terjadi bila tahanan geser tanah tidak dapat mengimbangi gaya-gaya
yang menyebabkan gelincir pada bidang longsor. Kelongsoran dapat terjadi
akibat hal-hal berikut:
1. Gangguan luar akibat pemotongan atau timbunan baru,
2. Gempa,
3. Kenaikan tekanan air pori akibat adanya pertambahan pembebanan,

naiknya muka air tanah dan lain-lain,
4. Proses pelapukan.

Similer Documents